Selasa, 22 Januari 2013

Pengendalian Hama Terpadu pada Kentang


Hama penting tanaman kentang yaitu, penggerek umbi/daun (Phthorimaea operculella), penggorok daun (Liriomyza huidobrenis), ulat tanah (Agrotis ipsilon), kutu daun (Myzus persicae), hama trips (Thrips palmi), kutu kebul (Bemisia tabaci), hama pemakan daun ulat grayak (Spodoptera sp), ulat jengkal (Chrysodexix sp) dan ulat buah tomat (Helicoverpa sp). Sementara itu, penyakit penting tanaman kentang meliputi, penyakit layu bakteri Ralstonia solanacearum, penyakit busuk daun cendawan Phytophthora infestans, penyakit bercak kering cendawan Alternaria solani, penyakit layu dan busuk kering umbi cendawan Fusarium oxysporum, penyakit daun menggulung virus PLRV, penyakit mosaik virus, nematoda bengkak akar (NBA) (Meloidogyne spp.), penyakit sista kuning nematoda Globodera rostochinensis, penyakit kaki hitam dan busuk lunak bakteri Erwinia spp., penyakit busuk cincin bakteri Clavibacter michiganensis ssp. sepedonicum, dan penyakit kudis bakteri Streptomyces scabies.
Dalam pengendalian hama dan penyakit terpadu, diperlukan beberapa tahab kegiatan, yaitu meliputi pegelolaan, perencanaan, pemantauan, pegemabilan keputusan, pelaksanaa dan evaluasi. Dalam kegiatan perencanaan ada hal-hal yang perlu dipertimbangkan yaitu, dalam pengaturan agroekosistem sehingga dapat meningkatkan peran musuh alami suatu organisme pengganggu tanaman. Peningkatan vigor tanaman perlu diperhatikan untuk meningkatkan ketahanan tanaman kentang, yang tidak kalah penting yaitu dalam penekanan perkembangan organisme pengganggu tanaman, sehingga keberadaannya masih dibawah ambang ekonomi.
Pemilihan bibit
Penerapan PHT dilakukan sejak dalam pemilihan bibit kentang. Bibit kentang dipilih yang memiliki kualitas bagus agar bibit terhindar dari patogen tular benih, dan tanaman dapat tumbuh dengan baik. Bibit kentang sebaiknya bersertifikat resmi diberi label. Umbi bibit dipilih yang sehat (mulus dan tidak cacat). Pemilihan bibit bertujuan untuk menghindari bibit yang terkena patogen tular benih seperti  Rhizoctonia solani, Fusarium spp, Phytophthora infestans, Colletrotichum coccodes, Ralstonia solanacearum, Potato Leaf Roll Virus dan penyakit virus mosaik.

Pemilihan lahan
Agar kentang dapat tumbuh dengan baik, lahan yang dipilih harus memiliki struktur tanah yang gembur, dekat sumber air (untuk musim kemarau) dan bukan bekas pertanaman solanaceae. Rotasi tanaman ini bertujuan untuk meniadakan inang untuk beberapa jenis patogen tular tanah seperti Ralstonia solanacearum, Alternia solani, R. solani dan Fusarium spp.
Pengolahan tanah
            Tanah dicangkul sedalam 20-35 cm dan dibalik 2-3 kali. Pembalikan ini bertujuan untuk memusnahkan patogen tular tanah. Patogen yang terpapar matahari secara langsung dalam waktu tertentu dapat mengalami kematian. Pada lahan perlu dibuat guludan untuk menggemburkan tanah dengan maksud agar aerasi tanah menjadi baik. Beberapa patogen seperti R. solanacearum dapat ditekan pertumbuhannya dengan mengatur kondisi aerasi lahan.
Sisa-sisa tanaman sebelumnya dikumpulkan dan dimusnahkan atau dibenamkan dalam tanah. Hal ini disebabkan sebagian patogen dapat bertahan pada sisa-sisa tanaman sebelumnya seperti A. solani dan C. coccodes. Pembenaman sisa-sisa tumbuhan dapat meningkatkan aktivitas mikroorganisme dekomposer dan menekan perkembangan patogen dalam tanah. Selain itu, sisa-sisa tanaman yang menumpuk juga dapat menjadi sarang ulat tanah Agrotis ipsilon. Untuk mencegah serangan Spodoptera litura, dibuat parit-parit isolasi disekitar bedengan. Parit ini berfungsi untuk menjebak ulat yang menuju areal pertanaman.
Pemberian pupuk dasar
Pupuk dasar yang diberikan berupa pupuk organik, baik pupuk kandang maupun pupuk kompos. Pupuk kandang yang diberikan harus pupuk yang sudah benar-benar matang, sehingga didalam pupuk sudah tidak terkandung gas methane dan patogen sudah mati karena proses pengomposan. Pupuk yang diaplikasikan dapat dicampur dengan agen antagonis seperti Trichoderma sp (Thricokompos). Pemberian agen antagonis ini dimaksudkan untuk menekan pertumbuhan dan perkembangan patogen dalam tanah seperti P. infestans, F. oxysporum dan R. solanacearum. Selain itu, agen antagonis juga dapat berperan sebagai pemacu pertumbuhan tanaman dan mampu menginduksi resistensi tanaman.



Penanaman
Bibit kentang ditanam dalam garitas di  atas pupuk kandang dengan jarak tanam 30 cm x 80 cm. Pemberian pupuk buatan dapat dilakukan serempak pada wantu tanam dengan cara diletakkan diantara bibit kentang. Garitan yang telah ditanami dan diberi pupuk ditutup dengan tanah. Pada sekeliling tanaman ditanami kubis atau caisin sebanyak 3-5 baris untuk tanaman perangkap kutu daun yang merupakan vektor virus. Di sekitar lahan perlu ditanam tanaman pelindung seperti Zea mays dan Tagetes sp. Untuk melindungi tanaman kentang dari serangan hama yang datang dari luar.

Pemeliharaan
            Ketegaran dan kesehatan tanaman berkaitan erat dengan tingkat toleransi tanaman terhadap infeksi hama penyakit. Oleh karena itu, beberapa perlakuan agronomi seperti pemupukan, pengairan, drainase tanah yang baik diperlukan agar tanaman tumbuh dan menghasilkan secara optimal. Pemupukan urea secara berlebihan justru akan membuat
tanaman lebih rentan terhadap infeksi jamur.
Penyulaman tanaman dilakukan jika ada yng mati dan tumbuh tidak normal. Penyiangan dilakukan dilakukan untuk memberantas gulma dan membetulkan drainase air. Beberapa jenis gulma seperti Ageratum conyzoides tidak perlu dimusnahkan, karena dapat berperan sebagi sumber nutrisi bagi parasitoid hama. Pembubunan dilakukan untuk mempertinggi tanah disekitar tanaman agar lebih tinggi dari tanah sekitarnya. Tujuannya agarperakaran tanaman akan menjadi lebih baik, menutup umbi kentang dan melindunginya dari serangan hama penggerek umbi. Pemangkasan bunga sebelum bunga mekar agar umbi tidak tumbuh kecil-kecil.
Saat tanaman mulai tumbuh, OPT yang menyerang tanaman dapat mulai dikendalikan dengan pembuatan perangkap. Lalat penggorok daun dapat dikendalikan dengan pembuatan perangkap kuning. Penyiraman dilakukan untuk menjaga kelembapan, untuk menghindari serangan Tetranychus sp.
Pembuatan perangkap kuning dan tanaman perangkap untuk beberpa jenis hama seperti penggorok daun dan kutu daun. Pembuatan feromon seks juga dapat mengendalikan beberapa jenis hama seperti kutu daun.


Pengambilan keputusan pengendalian OPT
Dalam PHT, penggunaan pestisida dilakukan apabila populasi OPT/tingkat kerusakan tanaman sudah sampai pada level yang harus dikendalikan. Beberapa hasil penelitian yang dapat digunakan sebagai dasar pengendalian secara kimiawi, antara lain:
No
OPT Penting
Nilai Ambang
1.
Penggerek umbi
25 ngengat/perngkap pada MH
100 ngengat/perngkap feromon seks pada MK
20 larva/100tanaman sampel
2.
Kutu daun
7 ekor nimfa/10 daun sampel
3.
Trips
100 ekor nimfa/10 daun sampel
4.
Busuk daun
1 bercak aktif/10 tanaman sampel
5.
Layu bakteri
1 tanaman/100 tanaman
6.
Virus
10% tanaman muda

Pengamatan OPT
Pengamatan dilakukan pada sampel yang dapat mewakili seluruh pertanaman yang ada. Penetapan tanaman sampel ditetapkan secara sistematik dengan cara:
a.       Bentuk diagonal, digunakan pada pertanaman yang tidak terlalu luas (≤0.2 m2). Tanaman sampel terletak pada garis diagonal atau sekitar garis tersebut.
b.      Bentuk sub-petak pada diagonal, untuk menghitung insiden dan intensitas sernagn virus dan bakteri, pola pengambilan sampel secara diagonal. Diambil 4 sub petak sampel dan tiap sub petak sampel terdiri atas 100 tanaman. Dari setiap sub petak diambil 10 tanaman sampel.
Banyaknya tanaman sampel yang akan diamati pada setiap waktu pengamatan suntuk setiap areal pertanaman untuk kentang belum ada, untuk sementara dapat ukuran yang digunakan pada PHT Kubis (Sastrosiswojo et al. 2000) atau pada PHT tomat (Setiawati et al. 2001), yaitu:
a.      Jumlah tanaman sampel
-          Luas pertanaman sampai 0,2 ha sebanyak 10 tanaman sampel
-          Luas pertanaman > 0,2-0,4 ha sebanyak 20 tanaman sampel
-          Luas pertanaman > 0,4-0,6 ha sebanyak 30 tanaman sampel
-          Luas pertanaman > 0,6-0,8 ha sebanyak 40 tanaman sampel
-          Luas pertanaman > 0,8-1,0 ha sebanyak 50 tanaman sampel

b.      Interval pengamatan
Interval pengamatan ditentukan oleh lamanya daur hidup OPT yang diamati, kemampuan berkembang biak, tingkat serangan/kerusakan dan tingkat populasi. Untuk kebanykan tanaman termasuk kentang, interval pengamatan adalah 7 hari telah dianggap cukup mewakili semua OPT penting. Untuk beberpa patogen penyakit tertentu seperti busuk daun perlu pengamatan 2-3 hari sekali. Pengamatan populasi hama dan tingkat kerusakan tanaman dilakukan pada pagi atau sore hari.
Peningkatan peran musuh alami
Cofesia ruficrus  merupakan sejenis tabuhan Braconidae yang berperan sebagai parasitoid ulat tanah. Hemiptarsenus varicornis dan Opius sp. merupakan penting pada hama L. huidobrensis. Eriborus argenteopilosus adalah parasit ulat buah tomat Helicoverpa dan ulat grayak Spodoptera sp.
Amblyseius cucumeris adalah tungau predator yang merupakan salah satu musuh alami trips yang penting. Cheilomenes (=Menochilus) sexmaculatus (Tribus: Coccinellini) merupakan kumbang kubah yang dapat memangsa kutu daun B. tabaci dan Trips sp mulai dari instar larva hingga dewasa. Serangga Harmonia sedecimnotata hidup sebagai pemangsa berbagai jenis kutu daun.
Beauveria bassiana merupakan sejenis jamur yang dapat menghasilkan toxin seperti beaurerisin, beauverolit, bassianalit, isorolit dan asam oksalat yang menyebabkan kenaikan pH, penggumpalan dan terhentinya peredaran daran serta merusak saluran pencernaan, otot, sistem saraf dan pernafasan yang pada akhirnya menyebabkan kematian pada seranggga. Phthorimaea operculella Granulosis Virus (PoGV) merupakan biopestisida berupa tepung dan bersifat sebagai racun perut yang akan membunuh larva P. operculella. Steinernema spp merupakan golongan nematoda yang dapat menyerang ulat grayak.
Metode penggunaan musuh alami, antara lain dengan mendatangan musuh alami dari luar dan menjaga kelestarian musuh alami. Untuk menjaga keletarian musuh alami dapat dilakukan dengan penanaman tanaman berbunga sebagai sumber energi musuh alami dan penggunaan insektisida secara bijaksana.
Pestisida nabati
Pestisida nabati terbuat dari bahan alami/nabati maka jenis pestisida ini mudah terurai di alam, sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan karena residunya mudah hilang. Beberapa tanaman yang dapat dijadikan sebagaai bahan pestisida nabati yaitu mimba, lengkuas, sirsak, tembakau, cengkeh dan serai wangi.
Panen dan pascapanen
Ketang siap dipanen jika 80% tanaman sudah menguning. Umbi-umbi sakit dipisahkan dan dimusnahkan. Umbi konsumsi dikelompokan berdasarkan ukuran, begitupula dengan umbi bibit dikelompokan berdasarkan kelas bibit.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar